OS Studio

Work With Heart And Peace

Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

Back to BASICS: Starburst Effect

Back to BASICS: Starburst Effect
Kami cukup yakin bahwa cukup banyak fotografer entry-level di luar sana yang sukses menangkap starburst effect dalam sebuah foto secara tidak disengaja, karena kebetulan pemandangan yang tengah mereka potret menampilkan bola cahaya yang berkilau terang dan mereka tengan menggunakan bukaan kecil untuk exposure. Menciptakan efek starburst memang susah-susah gampang dan tergantung situasinya, sangat bergantung pada timing dan kesempatan (terutama saat sumber cahayanya adalah matahari terbit atau terbenam).
Jika kamu berniat untuk menampilkan starburst effect dengan sengaja, prosesnya sebenarnya cukup mudah. Berikut beberapa prinsip dasar yang harus kamu ingat:
1) Sumber Cahaya
Sumber cahaya manapun bisa digunakan - lampu jalanan, lampu mobil, lampu di jembatan, lampu hiasan hari besar, cahaya yang dipantulkan permukaan bening, maupun matahari. Yang utama, sumber cahaya yang hendak ditangkap harus berpendar lebih terang dari pencahayaan sekelilingnya.

Santa Ynez Valley, CA, in a 1/8 second, aperture-priority exposure at f/14 and ISO 100 | Photo by Gary Crabbe

2) Aperture
Buatlah bukaan (Aperture) sekecil mungkin, artinya angka Aperture akan semakin besar f/11 - f/22. Mengapa demikian? Karena cahaya akan mengalami difraksi atau penyebaran saat melewati lubang sempit.
Di bawah sedikit gambaran pengaruh Aperture terhadap pendar dan bilah-bilah yang menjalar dari sumber cahaya:
Source: http://lensafotografi.com/teknik-dasar-fotografi-dengan-efek-starburst/

Sifat cahaya inilah (yang terlihat berpendar dengan bilah-bilah yang menyebar ke segala arah) yang dimanfaatkan para fotografer untuk menciptakan starburst effect. Sebagai catatan penting, jumlah bilah cahaya akan bergantung dengan jumlah “Aperture Blade” atau bilah aperture dalam lensa kamu.
Shasta National Forest, near Burney, CA; at 1/4 second, f/13, aperture priority, ISO 100 | Photo by Gary Crabbe


3) Focal Length Lensa
Semakin pendek Focal Length lensa, semakin bagus untuk foto yang dihasilkan. Fotografer Gary Crabbe cenderung menggunakan lensa AF-S Zoom-NIKKOR 17-35mm f/2.8D IF-ED atau AF-S NIKKOR 24-70mm f/2.8G ED kesayangannya.
Yosemite National Park, CA; photo taken at 1/200 second, f/13, manual exposure, ISO 100 | Photo by Gary Crabbe

Lensa Tele berguna untuk memotret subyek yang jaraknya lebih jauh. Kuncinya adalah memastikan ukuran sumber cahaya kecil di viewfinder kamera kamu. Butuh kemampuan membaca timing dan manuver yang kaya imajinasi saat matahari menjadi sumber cahayamu.
4) Gunakan Tripod
Penggunaan Tripod sangat direkomendasikan. Hal ini dikarenakan penggunaan bukaan yang kecil sehingga cahaya yang masuk menjadi sedikit hingga dibutuhkan shutter speed yang agak lama.
Yosemite National Park, CA; photo taken at 1/80 second, f/13, manual exposure, ISO 100 | Photo by Gary Crabbe


Saat memotret di waktu malam contohnya, dengan angka f yang besar, sebagai contoh f/18. Bukaan senilai ini membutuhkan shutter speed rendah, di atas 25 detik contohnya agar jumlah cahaya yang masuk cukup.

5) Shutter Speed rendah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk menciptakan efek starburst, dibutuhkan bukaan kecil. Alhasil, agar sensor mendapat masukan cahaya yang cukup, maka dibutuhkan shutter speed rendah agar dapat tetap menangkap detail pemandangan di luar sumber cahaya.
D800 and AF-S NIKKOR 14-24mm f/2.8G ED lens, 2.5 seconds shutter speed, f/10, ISO 1250 | Photo by Edin Chavez


6) Manual Exposure dan Aperture Priority
Untuk menghasilkan efek starburst, cobalah untuk memotret menggunakan mode Manual atau Aperture Priority. Tujuan utamanya adalah agar kamu bisa menyesuaikan tingkat expsoure secara bebas.
Selamat mencoba teman-teman!


Sumber : 

Jangan lupa Like,Share,Comment Dan Subcribe Ya......


#peace

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]