Mayoritas dari kita sangat menikmati pemandangan pegunungan. Fotografer pemula pada umumnya menjadikan pegunungan sebagai salah satu obyek foto wajib untuk melatih kelihaiannya. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara memotret pegunungan hingga tampak menarik dalam selembar foto?
Peraturan pertamaa yang harus kamu ingat saat hendak memotret pegunungan adalah: pastikan garis cakrawala (horizon line) pada foto tampak lurus. Oleh karenanya, saat kamu tengah memegang kamera dan dalam proses menilik pemandangan pegunungan di depanmu melalui viewfinder atau lcd, pastikan bahwa garis cakrawala yang tampak di depan matamu tidak miring. Kalau kamu menggunakan tripod untuk memotret, proses ini akan lebih mudah. Cukup banyak tripod yang memiliki fitur bubble-level bawaan yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan apakah kameramu lurus atau tidak.
Beberapa kamera Nikon bahkan memiliki fitur Virtual Horizon bawaan yang dapat secara cepat dan akurat menampilkan grafik di lcd-nya untuk menggambarkan posisi kamera x garis cakrawala.
Menentukan jarak antara kamera dan pegungungan yang hendak kamu potret pun sangat penting. Visualisasikan terlebih dahulu komposisi pemandangan yang hendak kamu potret sebelum bertualang untuk mencari lokasi yang tepat.
Kabut dan asap kerap mempengaruhi hasil foto. Jika pegungan mulai berkabut, atau garis pegunungan ditutupi asap polusi, pegunungan tersebut pastitidak akan tampak secara jelas di foto. Selama kamu bisa melihat secara jelas pemandangan pegunungan yang hendak kamu potret, kamu bisa bebas melanjutkan.
Foto Karya Reed Hoffman
Maanfatkan cuaca yang ada! Kabut dalam jumlah yang bisa ditolerir (tidak menutupi puncak atau detail bentuk gunung) dan hujan sebagai contoh dapat digunakan untuk “bercerita”.
Cahaya matahari yang jatuh menembus langit berawan dan menyinari latar pegunungan dapat menambah kesan “megah” dari pemandangan yang tengah disorot.
Selain menjadikan pegunungan sebagai tokoh utama, kamu juga bisa menjadikan pegunungan sebagai latar atau backdrop.
Memotret pegunungan dari bawah, dari daerah lembah memungkinkan kamu untuk bisa lebih banyak bermain dengan komposisi foto. Sebagai contoh, kamu bisa mendayagunakan obyek-obyek di sekitarmu untuk framing sosok gunung yang hendak kamu potret.
Kamu bisa menggunakan bunga, hewan-hewan liar disekitarmu, jalan raya yang mengarah ke pegunungan, danau, perahu atau bahkan peternakan sebagai “bumbu” untuk mempercantik foto kamu.
Kalau kamu berencana memotret pegunungan dengan danau besar di latar depannya, dimana air tenang dan diam, kamu bisa mencoba untuk turut menjepret bayangan dari pegunungan yang terpantul di danau.
Jika memungkinkan, cobalah untuk bersiaga di lokasi tepat usai matahari terbit, saat frekuensi angin sangat kecil agar permukaan danau tampil sedatar cermin.
Sebagai catatan penting, pada umumnya fotografer tidak akan meletakkan garis cakrawala di tengah-tengah foto. Akan tetapi, dalam kasus ini, dimana kamu tengah berupaya memotret garis pegunungan beserta bayangan yang terpantul di danau, kamu bisa mencoba meletakkan garis cakrawala di tengah-tengah foto. Dengan demikian, pemandangan di depanmu akan terbagi rata ke dalam dua bagian.
Memotret pemandangan pegunungan saat matahari terbit dan menjelang matahari terbenam akan memperkaya warna-warna yang tampil di dalam fotomu. Saat matahari terbit, tone foto kamu akan tampak lebih cool dengan gradasi biru keunguan. Sebaliknya, menjelang matahari terbenam, umumnya tone foto akan tampak lebih hangat dengan warna-warna merah dan kuning jingga.
Satu lagi tambahan, kamu bisa mempengaruhi warna foto yang kamu ambil dengan memainkan setting white balance di kameramu. Pada umumnya, kamera akan siaga di setting Auto White Balance. Akan tetapi, jika kamu mencoba mengganti setting ke Incandescent atau Fluorescent, warna foto akan tampak lebih cool. Setting Cloudy atau Shady akan menjadikan tone foto tampak lebih hangat.
Foto diatas adalah Hasil Karya Reed Hoffman
Semoga bermanfaat Bagi kita Semua
Sumber :
#peace
Akhir Kata
Terima Kasih











Tidak ada komentar:
Posting Komentar